Tuesday, November 27, 2012

Live In

Pada tanggal 21-27 Oktober 2012 siswa/i kelas 12 SMA Yos Sudarso melaksanakan program live in di Bantul, Ganjuran, Yogyakarta. Live in adalah sebuah proses dimana kitameninggalkan kotak kehidupan kita yang kecil dan keluar melihat dunia yang berbeda dari dunia kita sebelumnya dan beradaptasi di sana. Tujuan utama live in adalah untuk mengajarkan kita tentang arti kata menghargai. Sehari sebelum live in, siswa/i di berikan buku panduan yang berisikantentang peraturan selama live in, kolom kosong untuk mengisi kegiatan kami selama di sana, dan jadwal acara selama live in. Buku panduan ini wajib di bawa selama kegiatan live in berlangsung.

Pada tanggal 21 Oktober 2012 jam 4 sore, kami berkumpul di sekolah. Kami diberi pengarahan dan dibagikan name tag sebagai tanda pengenal. Name tag ini wajib dipakai selama kegiatan live in berlangsung. Setelah berdoa, jam 5 sore kami berkumpul di bus dan berangkat jam 5 lewat 15.

Bus tiba di Bantul jam 6 pagi. Sesampainnya di sana, kami berkumpul di Gereja Paroki Bantul. Kami diberikan sambutan yang hangat oleh kepala desa dan sedikit pengarahan dari bapak dan ibu guru pembimbing. Kami di bagi kedalam 3 kelompok yang terpisah. Satu persatu dari kami mulai djemput pamong.teman serumah saya adalah Hilza, kami di tempatkan di desa ke 3yaitu desa Tirtomulyo. Kami tinggal dirumah pak Wardani dan ibu Esti. Pak Wardani dan ibu Esti memiliki 2 anak. Anak yang pertama bernama Aris dan anak yang bungsu bernama Andre. Aris sudah duduk dikelas 5 SD sedangkan Andre baru berumur 3 tahun. Disana juga tinggal seorang nenek bernama Marto. Emak Merto adalah ibu dari ibu Esti. Saya tiba dirumah pak Wardani jam 7. Saya dan Hilza disediakan makanan. Setelah makan dan membersikan diri, kami di ajak kakak dari pak Wardani untuk mengunjungi teman kami yang live in dirumah beliau. Rumah beliau cukup jauh dari rumah kami,disana kami bertemu dengan Henny, Chyntia, Sheila dan Evelin. Kami memutuskan untuk bersepeda bersama hingga jam 12, kami berkeliling mengunjungi teman kami dikampung lain. Tak lama setelah kami pulang, kami diajak kakak dari pak Wardani untuk membantu untuk membersikan gereja. Setelah selesai membersihkan gereja kami kembali berkeliling kampung.

Hari berikutnya, kami mulai mengikuti aktivitas dari pamong kami. Kami bangun jam 5 pagi dan membantu ibu Esti memasak dan mencuci. Jam 6 kami berkunjung kerumah pamong Yesssy dan Angel, disana kami juga membantu memasak. Jam 2, kami membantu ibu Esti memetik cabai di kebunnya. Hasil panen tidak begitu banyak, tapi sangat menyenangkan bisa masuk kesawah. Walau pun cukup panas, tapi saya merasa segar melihat cabai-cabai yang merah itu. Jam 4 sore kami semua berkumpuldi gereja untuk mendengarkan pengumuman kegiatan selanjutnya. Pulang dari gereja kami siap” dan langsung keacara 7 harian warga dari kampung Tirtomulyo yang meninggal.

Hari rabu, tanggal 24 Oktober 2012 saya bangun jam 5 pagi dan bersiap-siap untuk kerja bakti di mulekan 2 desa Tirtosari. Jam 7 pagi kerja bakti dimulai dan kami pulang jam 10 pagi. Sekitar jam 11 siang, saya membantu pamong mencuci piring. Jam 12 siang saya dan Hilza pergi ke gereja Ganjuran di temani pamong kami, dari ganjungan kami langsung ke kebun cabai dan memetik cabai, kebun cabai kali ini sangat subur.cabai yang kami petik tidak hanya satu keranjang, tetapi hampir sekarung yang beratnya kira-kira 50kg. Memetik cabai memang menyenangkan, tapi bila cabainya sebanyak itu, capek sekali rasanya. Belum selesai memetik cabai, kami pulang dan bersiap untuk ke gereja Paroki karena kami harus berkumpul disana jam 6 sore. Sepulang dari gereja, kami menemani pamong kami ke acara 7 harian warga desa Tirtomulyo  yang meninggal, hari itu hari ke-6.

Pada hari kamis, hari yang saya nantikan sejak awal live in. Yaitu tanggal 25 oktober 2012, kami bangun jam 5 pagi dan segera bersiap untuk pergi berwisata. Jam 7 pagi bus kami berangkat menuju candi Prambanan. Siang itu cuacah sangat panas, sehingga saya tidak berfoto bersama, walaupun tempat bersejarah itu memang cukup menarik untuk saya. Sekitar candi Prambanan ada juga candi Jiwa, ada museum, kereta wisata dan disediakan sepeda wisata, bahkan banyak  toko-toko yang menjual cendramata khas Yogyakarta disana. Jam 11 siang kami berkumpul dibus dan bersiap menuju Parangtritis. Pantai selatan itu tidak begitu indah, tapi sangat memancing kami untuk berenang disana, didukung oleh hawa yang cukup panas dan angin yang segar disekitar pantai. Jauh dari pinggir pantai banyak toko yang menjual berbagai minuman dingin yang memikat, tidak sedikit  pula toko yang menyediakan kamar mandi untuk buang air kecil, mandi atau cuci kaki. Hampir disetiap toko mereka menyediakan sampo, sabun dan pakaian sampai sandal jepit. Ada pula makanan yang dijual dengan harga yang cukup tinggi disana, seperti mie dan nasi goreng. Sekitar jam 5 sore, kami kembali ke Bantul. Kami tiba di rumah sekitar jam 7 sore.

Pada hari Jumat 26 Oktober 2012, kami bangun jam 5 membantu pamong memasak dan menyapu. Jam 6 pagi, kami main kerumah teman. Kami kembali kerumah jam 1 siang dan bersiap-siap untu wisata. Jam 2 siang bus wisata berangkat menuju  tempat penjualan grosir barang-barang yang terbuat dari kulit, setelah itu kami ke Kasongan. Kasongan adalah tempat penjualan hasil karya tangan manusia baik dari bahan  keramik ataupun tanah liat. Barang-barang dijual dengan harga yang terjangkau. Selanjutnya kami berangkat menuju gereja Ganjuran. Kami berdoa disana dan pulang jam 6 sore.

Hari sabtu, kami bangun jam 4 subuh dan berkumpul digereja jam 6 pagi. Disana, kami berpamitan dan diberi pengarahan. Jam 7 pagi bus berangkat menuju Malioboro. Tempat itu luas, jadi tidak sempat saya jelajahi sepenuhnya karena terlalu lelah. Saya lebih memilih menunggu didalam bus. Sekitar jam 1 saya dan teman-teman saya merasa bosan. sehingga kami memutuskan untuk jalan-jalan lagi. Kami mengunjungi sebuah museum didekat bus kami. Museum itu sangat unik dan menarik, karena selain cara penyajian sejarahnya yang memikat pasa pendatang, museum ini juga memiliki game untuk mengatasi kejenuhan kami. Game ini dimaikan dilantai dan memanfaatkan sensor bayangan kita. Museum ini juga  dilengkapi bioskop sejarah, taman, dan perpustakaan. Miniatur  yang dibuat juga terlihat nyata. Jam 3 sore kami berkumpul dibus dan bersiap untuk pulang ke Karawang. Kami sampai di Karawang dan berhenti di sekolah
SMA Yos Sudarso karawang jam 6 pagi.



 




No comments:

Post a Comment